Festival Literasi Morowali Resmi Dibuka dengan Screening Kebudayaan: Edukasi Budaya Lokal bagi Para Relawan
- Jul 21, 2025
- Bayud Labua
Morowali, 20 Juli 2025 — Festival Literasi Morowali resmi dimulai dengan kegiatan screening kebudayaan sebagai pembuka rangkaian agenda festival. kegiatan ini menjadi ruang awal perjumpaan antara para relawan dengan budaya lokal Kabupaten Morowali, khususnya budaya Bungku yang kaya akan nilai-nilai adat, seni, dan kearifan lokal.
Kegiatan ini diinisiasi sebagai bentuk penguatan literasi berbasis budaya, di mana pengetahuan tentang budaya lokal menjadi landasan penting dalam pelaksanaan program Go to School—sebuah program pengabdian literasi yang melibatkan para relawan dari berbagai latar belakang pendidikan untuk mengajar dan berbagi ilmu di sekolah-sekolah di wilayah Morowali.

Dalam sesi screening tersebut, para relawan mendapat pengenalan langsung dari Dewan Pebotoa Adati Tobungku, yang pada kesempatan ini diwakili oleh Rafiudin Tengko, serta dari para seniman dan budayawan yang tergabung dalam Sanggar Seni Sampelaa, yakni Asbarudin dan Tauhid Aziz. Materi yang disampaikan meliputi sejarah singkat masyarakat Bungku, struktur adat dan peran Dewan Adat dalam menjaga tatanan sosial, serta pemahaman nilai-nilai kearifan lokal yang masih hidup dalam keseharian masyarakat.
Selain itu, para peserta juga diperkenalkan pada kekayaan kesenian tradisional Bungku. Di antaranya adalah Tari Luminda, sebuah tarian sakral yang biasanya dipertunjukkan dalam upacara adat dan prosesi penyambutan tamu agung. Tarian ini tak sekadar hiburan, tetapi juga merepresentasikan nilai keharmonisan, penghormatan terhadap leluhur, dan semangat kebersamaan. Para relawan juga dikenalkan dengan alat musik tradisional Dengu-Dengu, yang memiliki suara khas yang biasa digunakan dalam pertunjukan seni maupun prosesi adat, seperti pernikahan dan upacara penyambutan.

Ketua Panitia Festival Literasi Morowali, Ade Kurniawan Azali, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelibatan Dewan Adat dan seniman lokal merupakan bentuk komitmen untuk menjadikan festival ini bukan sekadar ajang literasi, tetapi juga sebagai sarana pemulihan dan pelestarian budaya daerah.
“Kegiatan ini kami rancang agar para relawan tidak datang hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai bagian dari masyarakat. Dengan memahami budaya lokal, mereka akan lebih mudah berinteraksi, menghargai, dan berkontribusi secara bijak terhadap lingkungan tempat mereka bertugas,” ujar Ade.
Festival Literasi Morowali juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari manajemen CSR PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), yang berkomitmen dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian budaya di wilayah lingkar tambang. Kerja sama ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi positif antara dunia industri dan kegiatan sosial-kultural.
Dengan tema besar “Membaca Budaya, Menulis Peradaban”, Festival Literasi Morowali tahun ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran literasi yang tidak terlepas dari akar budaya. Kegiatan screening ini menjadi titik awal dari berbagai kegiatan yang akan digelar selama festival.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, panitia berharap bahwa literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kemampuan memahami, menghargai, dan menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas dan kekuatan masyarakat Morowali